Cara Mendidik Anak Laki Laki

cara mendidik anak laki laki – Saat dokter tunjukkan bahwa ibu akan miliki bayi laki-laki, apa yang terlintas dalam pikiran? Sebagian mungkin berkhayal serunya bermain mobil-mobilan bersama, sebagian lagi udah khawatir berkhayal bagaimana mendampingi mereka kala masa puber tiba.
Wajar saja, perbedaan style kelamin sebabkan seorang ibu cuma bisa berupaya memosisikan diri di posisi anak laki-laki tanpa dulu mengalaminya. Mendidik anak laki-laki jadi merasa lebih menantang, apalagi jika ibu tidak jelas caranya.
Steve Biddulph, penulis buku Raising Boys, dalam The Irish Times mengatakan bahwa banyak anak laki-laki dan remaja pria yang pada akhirnya disakiti atau menyakiti orang lain kala mereka menghadapi masalah. Dibandingkan perempuan, anak laki-laki pun miliki mungkin sembilan kali lebih besar untuk dipenjara, tiga kali lebih besar untuk kenakan narkoba, bunuh diri, maupun meninggal sebab kecelakaan.
Tidak mungkin semua ini “sudah berasal dari sananya”. Pasti tersedia alasan logis yang bisa mengatakan fenomena ini, beserta langkah mengatasinya. Tidak usah khawatir Bu, kendati miliki anak laki-laki muncul sedikit lebih berisiko, kita bisa memulai bersama jelas karakteristik bawaan mereka lebih-lebih dahulu untuk memulai perjalanan pengasuhan ini.

Cara Mendidik Anak Laki Laki

Pahami perbedaan bawaan anak laki-laki
Sama layaknya perbedaan antara ibu dan suami, anak laki-laki dan perempuan pun miliki perbedaan yang berakar berasal dari aspek fisiknya. Saat masih di dalam kandungan, otak janin laki-laki tumbuh lebih lambat dibandingkan janin berjenis kelamin perempuan.
Hal ini masih tetap berjalan kala mereka berusia lima tahun, di mana perkembangan otak anak laki-laki terlambat 20 bulan dibandingkan anak perempuan. Jadi, jangan terlampau khawatir jika anak perempuan kawan terhadap umur berikut udah bisa mewarnai lebih rapi, menolong membereskan mainan, membaca, kala anak laki-laki ibu masih belum bisa terus-menerus diajak bekerja sama.
Tidak cuma itu, sesama anak laki-laki pun masih miliki perbedaan pembawaan mengenai kuantitas hormon testosteronnya. Anak bersama kandungan testosteron tinggi lebih berpotensi mengalami ada problem membaca dan berbicara, padahal secara lazim anak laki-laki tiga kali lebih sukar membaca dibandingkan perempuan.
Dengan jelas perbedaan bawaan ini, langkah ibu mendidik anak laki-laki wajib dibedakan bersama langkah mendidik anak perempuan (jika ibu miliki keduanya) dan menjauhkan membandingkan mereka bersama anak perempuan kendati berada terhadap umur yang sama.cara mendidik anak laki laki

Tentukan pembawaan yang ingin dimiliki anak
Langkah kedua kala mendidik anak laki-laki adalah pilih ingin jadi orang dewasa layaknya apa kelak. Ibarat membangun rumah, orang tua wajib miliki rancangannya lebih-lebih dahulu. Jika para orang tua dihadapkan terhadap pertanyaan ini, jawaban yang lazim muncul adalah ingin anaknya jadi orang yang sukses, baik, taat beragama.
Seorang ibu mungkin miliki pandangan yang lebih teliti mengenai pembawaan anak mereka kelak, layaknya tegas namun mengayomi, pemimpin namun terhitung pengertian, pekerja keras namun tidak enggan menolong urusan rumah tangga, dan sejenisnya. Intinya adalah, anak laki-laki diinginkan jadi sosok yang kuat sekaligus penyayang. Jika kelak ia jadi seorang ayah, ia bisa mendidik sekaligus menemani anak bermain.
Masalahnya, bersama pembawaan bawaan layaknya di atas, dapatkah anak laki-laki miliki dua sisi tersebut? Bisa saja. Ibu bisa membacakannya buku sejak kecil supaya ia punya kebiasaan membaca, kerap mengajak anak berbicara, mendengarkannya bersama penuh perhatian kala ia bercerita mengenai apapun, kendati perihal berikut terlampau sepele.
Hindari membolehkannya bermain games atau gadget tanpa batasan kala yang jelas supaya kekuatan komunikasinya bisa berkembang bersama lebih baik. Untuk mengasah sensitivitas anak, jelaskan pentingnya berbuat baik bersama langkah berbagi mainan bersama kawan ataupun menyayangi hewan peliharaan.
Pada titik ini, seolah langkah mendidik anak laki-laki dan perempuan sama. Memang betul, pembiasaan akan hal-hal baik tidak mengenal style kelamin. Namun, bersama jelas karakteristik anak sejak awal, ibu bisa jelas kelemahan apa yang masih bisa dikejar dan kekuatan apa berasal dari anak yang bisa diasah.

Ajari mereka mengungkap perasaan
Kenyataan bahwa anak laki-laki lebih banyak terlibat kesibukan berbau kekerasan berakar berasal dari dua hal: sebab aspek hormonal dan lingkungan. laki laki miliki hormon testosteron yang sebabkan motorik kasar mereka berkembang lebih baik berasal dari aspek motorik halus.
Sementara itu, aspek lingkungan sebabkan mereka tabu untuk mengungkap perasaan. “Anak laki-laki kok cengeng,” jadi bagian berasal dari langkah orang tua generasi terdahulu mendidik anak laki-laki supaya tangguh. Meskipun kala ini orang tua udah lebih jelas bahwa laki-laki pun boleh menangis, lingkungan masih menganggap laki-laki tidak seharusnya tunjukkan sisi lemahnya.
Akibatnya, anak laki-laki kerap memendam kesedihannya. Perasaan terpendam bisa berkembang jadi stres. Stres merupakan aspek mutlak dalam bermacam penyakit fisik dan mental. Sebagian besar kecanduan alkohol berakar berasal dari kebutuhan untuk meremehkan permasalahan (dengan langkah minum).
Karena itu, ibu bisa berperan untuk menolong anak mengungkap perasaan mereka. Hal ini akan menolong mengurangi agresivitas anak laik-laki dan mengurangi mungkin munculnya ledakan emosi. Adanya pria dewasa (seperti ayah, kakek, paman) dalam keluarga terhitung bisa sebabkan anak laki-laki jelas perasaannya bersama langkah meniru perilaku pria berikut dalam mengungkap emosi.
Diperlukan kala yang tidak sebentar bagi seorang anak laki-laki untuk punya kebiasaan mengungkap perasaan. Jadi, sabar ya Bu, yang mutlak senantiasa dukung dan dampingi anak.
Jika anak muncul layaknya menaruh masalah, tanyakanlah terhadap anak sekali, dua kali. Namun, menjauhkan mendesak ia untuk bercerita atau menghujaninya bersama pertanyaan jika ia menampik menjawab. Sebaliknya peluk ia dan katakan padanya bahwa ibu senantiasa siap kapanpun ia ingin bercerita.cara mendidik anak laki laki

Belajar berasal dari perilaku agresif
Sebagai wanita, ibu kerap merasa terganggu jika anak laki-laki gemar bermain tembakan atau video games yang tunjukkan pertempuran dan perkelahian. Namun, apa yang ibu melihat sebagai kekerasan bagi anak merupakan impiannya untuk jadi pahlawan dan “menyelamatkan dunia”.
Permainan imajinatif yang melibatkan perilaku agresif –misal polisi dan penjahat, zombie dan tentara- bisa jadi langkah mendidik anak laki-laki yang efisien akan konsep benar dan salah. Bermain layaknya ini terhitung bisa menambah keyakinan diri serta kesetiakawanan.
Gloria DeGaetano, pendiri Parent Coaching Institute, sempat bertekad untuk tidak membelikan anak laki-lakinya permainan berbau kekerasan, layaknya senapan mainan. Namun, anak-anak ternyata lebih kreatif dalam suasana serba terbatas: tongkat difungsikan layaknya pedang atau tembakan. Bahkan, roti tawar pun digigit sedemikian rupa sampai berbentuk layaknya pistol.
Pada titik ini, Gloria menyerah dan membelikan anaknya mainan sejenis berkwalitas baik yang safe untuk anak. Yang wajib diperhatikan ketika anak bermain imajinasi yang berbau kekerasan adalah pastikan anak tidak miliki niat untuk menyakiti orang lain.
Jika anak merasa permainan terlampau kasar, ia akan berhenti. Apabila kita melihat bahwa permainan ini sebabkan anak frustrasi, gunakan peluang ini untuk memperkenalkan konsep empati, yaitu sistem untuk jelas perasaan orang lain. Dari sini, anak studi bahwa menyakiti orang lain itu tidak boleh. Mereka pun studi mengatur diri bersama orang lain. Cara mendidik anak laki-laki layaknya inilah yang mungkin tidak bisa ibu terapkan terhadap anak perempuan.
Meskipun permainan fisik yang berbentuk kompetitif semacam ini terlampau normal untuk anak laki-laki, tidak semua anak miliki kandungan agresi yang serupa dan tidak semua ibu miliki tingkat toleransi yang sama. Jika ini yang terjadi, ibu bisa mengalihkan anak ke permainan lain yang terhitung melibatkan aspek fisik.

Didik berdasar tahapan usia
Dalam buku Raising Boys, Steve Biddulph membagi langkah mendidik anak laki-laki dalam tiga tahapan usia. Pada umur 0-6 tahun, anak laki-laki memerlukan banyak perhatian dan kasih sayang supaya mereka bisa studi menyayangi. Berbicara secara langsung, mengajari secara personal, bisa menolong mereka mengenal dunia. Pada tahapan umur ini, ibu adalah sosok yang paling tepat untuk mengajari anak laki-laki kendati papa terhitung bisa berperan serta.
Pada umur enam tahun, anak laki-laki merasa tunjukkan ketertarikan terhadap maskulinitas dan hal-hal berbau pria. Karena itulah, saatnya papa mengambil alih peran ibu sebagai pendidik utama. Minatnya akan suatu perihal jadi mutlak di masa ini. Peran ibu senantiasa besar, supaya jangan mendadak mundur cuma sebab anak udah jadi tambah besar.
Sekitar umur 14 tahun, anak laki-laki memerlukan mentor, yaitu orang dewasa lain yang menyimak mereka dan menolong mereka untuk “pindah” berasal dari dunia kanak-kanak mereka ke dunia yang lebih besar. Masyarakat tradisional jalankan upacara kebiasaan untuk menandai transisi ini, supaya mentor terhadap kala itu tidak ada problem dicari. Pada masa sekarang, sosok yang bisa jadi mentor antara lain paman, kakak kelas, guru di sekolah, pelatih di kesibukan ekstrakurikuler atau kursus.

Pertanyaannya, mengapa bukan papa yang mendidik anak laki-laki terhadap step ini? Hormon testosteron anak laki-laki meningkat sampai 800% terhadap umur ini, jalinan bersama papa akan layaknya roller coaster. Anak bahagia berdebat, senantiasa mempertanyakan banyak perihal yang tidak cocok bersama prinsipnya, terhitung mengkritisi ayahnya sendiri.

Anak miliki bayangan ideal mengenai bagaimana seorang papa sebaiknya bersikap, papa pun miliki harapan mengenai perilaku anak. Sayangnya, dua perihal berikut jarang tersedia yang cocok. Karena itu, ibu wajib meyakinkan bahwa mentor anak adalah orang yang tidak memiliki masalah dan layak dijadikan panutan.

Tahap lain dalam tumbuh kembang anak laki-laki baru ditemukan tahun lantas oleh peneliti berasal dari Melbourne’s Royal Children’s Hospital dalam sebuah penelitian yang melibatkan 1.200 anak yang nyaris memasuki masa remaja. Tahap yang disebut adrenarche ini muncul terhadap umur 8-9 tahun, di mana berjalan peningkatan hormon adrenal yang memengaruhi kinerja otak pula. Anak laki-laki ibu akan lebih ringan sedih, cemas, lepas kendali, dan tunjukkan perilaku yang tidak layaknya biasanya.

Hal ini akan membingungkannya, sekaligus orang tuanya. Tahap adrenarche ini adalah fase pertama berasal dari pubertas kendati gejala fisik tidak akan muncul sampai tiga atau empat tahun setelahnya. Fase adrenarche terhadap anak perempuan langsung diikuti oleh perubahan fisik dan tuntas terhadap umur 14 tahun. Anak laki-laki baru berhenti bertumbuh dan matang terhadap umur 16 atau 17.

Tanamkan sikap menghormati wanita
Banyak kasus kekerasan terhadap perempuan berakar berasal dari langkah yang keliru dalam mendidik anak laki-laki, yaitu lupa mengajarkan mereka bagaimana menghormati wanita. Budaya dan lingkungan pun miliki andil dalam membentuk pola pikir yang memposisikan pria lebih tinggi daripada wanita. Karena itu, peran orang tua dalam keluarga terlampau mutlak untuk menghilangkan ketimpangan ini supaya anak laki-laki terhitung bisa menghormati perempuan.

Salah satu caranya adalah bersama mengajarkan mereka untuk jangan dulu memukul, menyakiti, bersikap kasar, dan tidak hormat terhadap perempuan di awali berasal dari ibu dan saudaranya sendiri. Ayah dan ibu wajib membahas perihal ini secara jelas terhadap anak mengenai bagaimana seorang pria wajib bersikap. Sampaikan bersama gamblang tanpa sebabkan anak merasa perihal berikut menakutkan atau berat. Dalam keseharian, langkah mendidik anak laki-laki supaya bisa menghormati wanita adalah bersama membiasakan ia untuk bersihkan sendiri piringnya di dapur, merapikan kamarnya sendiri, supaya ia tidak menganggap hal-hal layaknya ini adalah tugas ibunya, pembantunya, atau wanita terhadap umumnya.

Saat ia menginjak umur 14 tahun, ketika badannya udah lebih besar berasal dari ibu dan perempuan terhadap umumnya, anak merasa berpikir bahwa tidak tersedia yang bisa memaksanya jalankan sesuatu. Jika anak merasa tidak sopan terhadap ibu, umpama menyuruh ini itu atau membentak, di sinilah papa wajib turun tangan. Ayah wajib tegas terhadap anak –tidak wajib membentak- dan bersama bersama ibu selesaikan kasus tersebut.

Banyak kasus di mana papa seolah lepas tangan bersama sikap tidak sopan anak laki-lakinya dan menganggap perihal berikut tidak wajib dipermasalahkan. Lebih jelek lagi, ayahlah yang berikan umpama jelek langkah memperlakukan ibunya. Jika ini yang terjadi, sang papa tidak mendidik anak laki-lakinya bersama benar, lepas berasal dari terpenuhinya segala kebutuhan anak.

Bagaimana bersama ibu tunggal (single mother)? Cara mendidik anak laki-laki layaknya langkah-langkah di atas senantiasa bisa dilakukan oleh ibu tunggal, namun ia wajib melacak sosok laki-laki dewasa yang bisa anak jadikan panutan sebagai pengganti ayah.

Sosok ini bisa berbentuk kakek, paman, guru, atau kawan ibu yang bisa dipercaya dan kerap ada dalam kehidupan anak. Selain itu, ibu wajib miliki kala untuk diri sendiri untuk beristirahat berasal dari peran ganda yang dijalankan.

Waktu = kasih sayang
Di dunia serba sibuk layaknya sekarang, banyak orang tua yang miliki kala yang terbatas bersama anak-anaknya. Sebagai kompensasi atas kebersamaan yang hilang, banyak yang menghujani anak bersama materi. Padahal, bukan ini yang anak butuhkan. Ingatlah satu prinsip bahwa kala serupa bersama kasih sayang. Seseorang menyayangi orang lain jika ia bisa mencurahkan waktunya dan perhatiannya untuk orang tersebut. Kuantitas serupa pentingnya bersama kualitas.

Dalam perihal ini, langkah mendidik anak laki-laki dan perempuan sama, yaitu menyediakan kala untuk mereka sebagai bukti ibu menyayangi mereka. Yang sebabkan masa kecil itu indah adalah memori. Pastikan ibu mengukir memori indah bersama anak.