Inilah Dampak Positif dari Kedekatan Ayah dengan Sang Buah Hati

inilah dampak positif dari kedekatan ayah dengan sang buah hati – Tak bisa dipungkiri, meski menambahkan banyak kemudahan, era digital juga membawa dampak orangtua harus berusaha ekstra keras di dalam mendidik dan membesarkan sang buah hati, supaya kelak tak tidak benar langkah. Bagaimana caranya?
Beda era pasti berbeda pula pola asuh yang bisa diterapkan orangtua di dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Termasuk di era digital ini yang ditandai bersama dengan hadirnya bervariasi perangkat digital serta jaringan internet yang mumpuni.

Memang, harus dianggap kecuali era digital teramat terlalu memberi banyak kemudahan di bervariasi segi kehidupan. Namun dibalik semua itu, bila tidak benar menerapkan pola asuh, maka bukan tak barangkali ‘buah’ yang seharusnya tumbuh bersama dengan subur dan sehat tambah berkembang sebaliknya.

Karena itu, harus hukumnya bagi orangtua untuk mencari dan menemukan pola asuh yang tepat. Agar nantinya anak bisa selalu tumbuh normal dan cocok harapan di sedang derasnya arus Info dan berkembangnya teknologi serta jadi ketatnya persaingan.

Inilah Dampak Positif dari Kedekatan Ayah dengan Sang Buah Hati

Athalia Sunaryo, M.Psi., Psikolog dari Lifespring Counseling plus Care Center menyebutkan bahwa di era digital ini, anak-anak biasanya telah melek teknologi lebih-lebih barangkali lebih pakar dibandingkan bersama dengan orang dewasa atau orangtuanya. Mereka juga kaya bakal bervariasi Info dari berbagai belahan dunia. Tinggal klik atau menyentuh layar smartphone, maka berbagai Info yang diinginkan di dalam saat itu juga telah tersedia di depan mata.

Selain itu, melalui aplikasi khusus atau permainan video, kreativitas anak juga jadi lebih terlatih. Namun sayangnya, dibalik fungsi positif yang didapatkan, terdapat juga dampak negatif yang akhirnya bakal pengaruhi aspek-aspek perkembangan anak, juga kekuatan sosialisasi anak.

“Kita pasti sering memandang anak usia dini yang sedang asyik bermain smartphone atau tablet. Mereka seakan tidak acuhkan bersama dengan keadaan sekitar. Padahal untuk anak usia dini, mereka seharusnya lebih banyak bersosialisasi dan studi melalui panca indera,” kata Athalia.

Parahnya, keadaan yang demikianlah sering tidak disadari oleh orangtua. Bahkan banyak diantaranya tambah beranggapan menambahkan konten studi melalui layar smartphone, tablet, atau televisi justru telah jadi suatu keharusan supaya anak tidak ketinggalan jaman. Terlebih anak yang diberi smartphone atau tablet bakal jadi lebih tenang dan ‘tidak mengganggu’ aktivitas orangtuanya.

“Hal ini pasti terlalu memprihatinkan dikarenakan sederhananya, smartphone atau tablet itu hanya menambahkan stimulasi pada indera penglihatan dan pendengaran anak saja. Sementara indera lainnya tidak tersentuh. Contoh, anak kita memandang jeruk di tablet bersama dengan kita memberinya buah jeruk asli, pasti bakal berbeda sekali manfaatnya. Jika di tablet si kecil hanya bisa memandang bentuk dan warnanya, namun selagi memegang buah jeruk asli, maka anak bisa memandang warna buah dan bentuknya sekaligus menyentuh tekstur jeruk. Anak juga bisa mencium aroma dari jeruk selagi dikupas. Sehingga mereka bisa mendapatkan berbagai macam stimulasi hanya dari satu buah saja,” tutur Athalia panjang lebar.

Selain kasus stimulasi, Athalia juga memandang bahwa bersama dengan jadi eratnya jalinan anak bersama dengan smartphone atau tabletnya, maka jadi jauh ikatan batin pada orangtua bersama dengan anak. Akibatnya, anak bisa tumbuh jadi khusus yang tertutup dan bukan tidak barangkali mengalami keterlambatan berkata dikarenakan kekuatan berbahasa atau bersosialisasinya tidak cukup diasah melalui jalinan sosial secara segera sejak dini.

Lebih lanjut juga dijelaskan, dikala anak merasa memasuki usia sekolah, maka problem yang sering ditemui akibat pemanfaatan tablet yang tidak bijaksana selagi usia dini adalah lemahnya kekuatan motorik anak. Masih menurut Athalia, anak yang telah dikenalkan smartphone atau tablet sejak dini biasanya hanya terbiasa manfaatkan lebih dari satu jarinya saja untuk menyentuh layar. Alhasil dikala anak diajak studi menulis atau aktivitas lainnya yang butuh kekuatan motorik, mereka sering mengeluh lebih-lebih menampik dan frustasi dikarenakan merasa terlalu sulit.

“Ya, di era digital yang serba instan ini, kesabaran dan daya juang anak juga bisa terpengaruh. Misalnya selagi mereka bermain game dan menggapai level yang sulit, maka anak condong untuk restart permainan atau menentukan permainan lain. Biasanya mereka juga cepat jemu bersama dengan berbagai aktifitas yang tidak melibatkan smartphone, dikarenakan anak tahunya hal yang menggembirakan itu ya hanya yang terkait bersama dengan smartphone saja,” ujar Athalia.

Selanjutnya Athalia juga menyebutkan bahwa seharusnya kemajuan teknologi di era digital ini bisa dimanfaatkan untuk mendekatkan yang jauh. Misalnya orangtua bekerja di luar kota, maka bisa manfaatkan sarana video call untuk tetap menjalin komunikasi intensif bersama dengan anak.

Bukan tambah sebaliknya, kemajuan teknologi selagi ini justru seringkali jauhi yang dekat. Sebagai contoh, dikala berkumpul bersama dengan keluarga, si papa sibuk memandang berbagai berita di smartphone-nya. Sementara ibu sibuk bersama dengan sarana sosial, dan anak sibuk main game. Otomatis tidak tersedia jalinan di di dalam keluarga supaya percuma juga berkumpul.

Alhasil sekali lagi anak jadi jadi tertutup dan condong lebih dekat kepada smartphone atau teman-temannya. Hal ini pasti terlalu berbahaya, dikarenakan smartphone atau temanteman sebaya bisa jadi sumber Info yang salah. Tak sedikit bukan, anak yang terjerumus ke pornografi atau aliran sesat akibat terpengaruh Info yang didapat dari internet maupun kawan sebaya?.

Karena itu diinginkan orangtua bisa tetap menjalin jalinan yang hangat dan dekat bersama dengan anak. Sehingga anak menyadari bahwa sumber Info yang benar itu adalah orangtua, bukan internet ataupun kawan sebaya.

“Untuk mendekatkan diri bersama dengan anak itu tidak ada problem kok, yang paling penting berilah semisal kepada si kecil berkenaan pemanfaatan gadget yang bijaksana. Dalam arti selagi berkumpul bersama dengan keluarga, manfaatkan bersama dengan sebaik-baiknya. Jauhkan gadget dan jalin kebersamaan bersama dengan anak melalui cerita atau aktifitas lain yang menyenangkan. Dengan demikianlah orangtua bisa jadi panutan yang baik,” ujar Athalia.inilah dampak positif dari kedekatan ayah dengan sang buah hati

Menelaah Pola Asuh Orang Tua

Lalu, apa lagi yang harus ditunaikan supaya orangtua tak tidak benar langkah di dalam mendidik anak di era digital? Terlebih dahulu Athalia menyebutkan bahwa pada dasarnya tiap tiap orangtua pasti memiliki naluri untuk mendidik, membesarkan, melindungi, dan mendampingi anak di dalam tumbuh kembangnya. Naluri berikut diikuti bersama dengan pengalaman pengasuhan yang didapatkan mereka sendiri sewaktu kecil. Berangkat dari naluri dan pengalaman tersebut, orangtua harus memutuskan terlebih dahulu, pola asuh layaknya apa yang bakal diterapkan kepada sang buah hati.

Sejatinya, pola asuh itu sendiri tak hanya terbentuk secara internal, harus diperhatikan juga dampak eksternalnya. Semisal tuntutan keperluan hidup era kini yang mengharuskan papa dan ibu bekerja supaya kebersamaan orangtua dan anak berkurang. Pengasuhan pun jadi terbagi bersama dengan orang yang dipercaya untuk mengasuh anak dikala orangtua berkerja. Guna menyiasatinya, orangtua harus menambahkan penjelasan mendalam kepada orang yang dipercaya mengasuh si kecil berkenaan pola asuh yang bakal diterapkan pada anak. Dengan demikianlah tidak berjalan dualisme.

Athalia juga menyebutkan bahwa bila ditilik bersama dengan seksama, pola asuh orangtua era saat ini biasanya lebih berbentuk permisif. Dalam arti apa yang diminta oleh anak condong bakal dikabulkan. Hal ini pasti tidak terlepas dari perasaan bersalah orangtua akibat sekurang-kurangnya selagi yang bisa mereka memberikan pada sang buah hati. Sehingga sebagai gantinya, orangtua bakal melimpahi anak bersama dengan berbagai barang. Di samping itu, orangtua era saat ini juga sering membanding-bandingkan anaknya bersama dengan anak orang lain.

“Sebagai contoh, bila anak si A bila turut les musik, maka kita juga merasa si kecil di rumah harus turut les yang sama. Atau bila anak si A diberi tablet, maka kita juga ingin menambahkan barang yang mirip kepada anak. Kondisi bersama dengan pola asuh layaknya itu pasti tidak sehat, maka dari itu harus segera diperbaiki,” tutur Athalia.

Lebih lanjut Athalia mengutamakan bahwa di era digital ini, tanggung jawab pengasuhan harus selalu berada di tangan orangtua, bukan di teknologi. Itu sebabnya, yang bisa mendampingi, menenangkan, dan menggembirakan anak seharusnya orangtua bukan gadget. Contohnya, selagi anak tantrum jangan segera menenangkan bersama dengan menambahkan gadget, tersedia baiknya orangtua menemukan langkah lain yang lebih pas untuk menenangkan anak.

Meski demikian, Athalia lagi mengingatkan bahwa teknologi juga memiliki banyak sisi positif, maka dari itu jangan dijadikan sebagai barang haram. Justru memperkenalkan anak kepada teknologi di era digital ini telah jadi suatu keharusan. Hanya saja di dalam prakteknya, orangtua harus lebih bijaksana dan siap menambahkan batasan-batasan. Sebagai contoh, si kecil boleh bermain gadget hanya pada akhir minggu saja, itu pun diberi batasan waktu, 2 atau 3 jam. Selain itu, selalu periksa konten yang dilihat atau dimainkan oleh anak. Pastikan konten berikut cocok bersama dengan usia si kecil.

“Ingat ya, kecuali ingin menghambat pemanfaatan gadget, alihkan bersama dengan aktivitas lain yang sepadan. Jangan katakan : “Adik berhenti main game, ayo belajar”. Dua aktivitas berikut pasti tidak sebanding. Lebih baik carikan aktivitas alternatif lain yang menggembirakan untuk anak layaknya bermain board game atau bermain di taman. Intinya, orangtua harus memfasilitasi anak bersama dengan aktivitas alternatif yang menarik. Akan lebih baik lagi kecuali aktivitas itu bisa ditunaikan bersama dengan bersama dengan keluarga,inilah dampak positif dari kedekatan ayah dengan sang buah hati