Kata Yang Harus Dihindari Orang Tua Ketika Marah

kata yang harus dihindari orang tua ketika marah – Tahukah kamu bahwa kata-kata ancaman mampu memengaruhi sisi emosional si buah hati? Saya percaya, setiap orang tua mendambakan yang paling baik untuk anaknya. Karena rasa sayang dan over protective, kadang-kadang ungkapan larangan hingga ancaman kerap kamu lontarkan tanpa sadar. Hati-hati, apa yang kamu ucapkan sekarang, mampu saja jadi bumerang di jaman depan, lho!
Agar nggak berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan emosional anak, yuk cari tahu !

Kata Yang Harus Dihindari Orang Tua Ketika Marah

1. “Berhenti nangis, nggak!”
Saat si kecil jadi marah, sedih, atau nggak nyaman bersama sekitar, sebisa bisa saja jangan membentaknya supaya segera berhenti menangis. Dengan mengekang emosi si buah kecil dalam saat yang lama, mampu membuat si kecil jadi pribadi yang tertutup. Dia terhitung nggak terbuka kepadamu saat dewasa nanti.

2. “Jangan jadi anak yang cengeng”
Tanpa kamu sadari, kata-kata layaknya ini ternyata akan berpengaruh terhadap pencitraan diri si kecil, lho. Dengan mengucapkan perihal ini, sama saja kamu sedang merendahkan si kecil. Saat menginjak dewasa, mereka akan tumbuh jadi pribadi yang nggak punya rasa yakin diri.

3. “Kenapa kamu nggak mampu layaknya si A (saudara, teman, atau tetangga), sih?”
Saat kecil, saya tetap protes terkecuali dibanding-bandingkan bersama anak tetangga. Saya rasa, seluruh anak tentu punya anggapan yang sama, bukan? Dan nggak puas dibanding-bandingkan bersama orang lain. Efek buruk dari kerap dibanding-bandingkan, si kecil akan mengenal persaingan.
Bukannya nggak mungkin, ia akan jadi inferior dan membenci anak yang kerap kamu puji-puji. Sementara itu, menurut seorang psikiater, Dr. Lim Boong Leng, “Anakmu bisa saja saja nggak akan punya rasa yakin diri terhadap ketetapan dirinya sendiri terkecuali orangtua tetap mengkritik keputusannya”.

4. “Ayah/Bunda nggak mampu beli”
Sudah berapa banyak orang tua yang berbohong terhadap anaknya terkecuali nggak punya uang untuk membeli mainan? Sebenarnya, kamu nggak papa kok menyebutkan kata-kata ini terkecuali terlampau nggak ada uang. Namun, terkecuali hingga berbohong supaya si kecil nggak membeli mainan maka kamu baru saja lakukan kesalahan.

Beberapa tahun ke depan saat si kecil tumbuh dewasa, jangan hingga kamu menyalahkannya karena berbohong kepadamu. Apalagi, terkecuali dia berbohong untuk meraih uang. Namanya terhitung mengikuti kebiasaan orang tua, kan?

5. “Karena Ayah/Bunda bilang begitu!”
Saya adalah model orang yang nggak gampang nurut bersama perintah orang terkecuali memerintah tanpa dilandasi oleh alasan rasional. Apalagi, terkecuali si pembicara jadi terkesan diktaktor dan mendikte.

Hal ini terhitung berlaku terhadap anak-anak, lho. Saat si kecil lakukan perihal beresiko dan mengancam jiwa, sebagai orang tua kamu tentu mendambakan dia segera berhenti melakukannya. Terkadang, ada orang tua yang sedikit malas untuk menyebutkan alasan rasional dari larangannya tersebut. Alhasil, si kecil pun konsisten melanggar apa yang kamu larang.

6. “Adik perlu kurusan, bajumu jadi semakin ketat tuh!”
Kalau kamu terlampau fokus terhadap tampilan fisik, perihal ini mampu ‘menular’ kepada si kecil. Saat mereka mendambakan makan banyak dan kamu mengkritik fisiknya, mampu saja si kecil minder bersama fisiknya. Hal ini akan menciptakan mindset ke anak, terkecuali fisik itu lebih perlu daripada kekuatan dan kepribadian.

7. “Ayah/ Bunda nggak akan ngomong hingga adik berhenti”
Ada kalanya kamu jadi jengkel bersama si kecil karena nggak sudi mendengarkan. Entah dia melupakan larangan atau perintahmu, selanjutnya kamu pun sewot sendiri. Ungkapan di atas mampu diambil kesimpulan terkecuali kamu meminta si kecil nggak berkunjung kepadamu saat ada masalah. Kecuali, dia nurut dan lakukan apa yang kamu inginkan.

8. “Orang-orang akan menertawakan adik terkecuali puas mainan itu”
Masih seputar kebiasaan orang tua yang mengkritik pilihan anaknya. Kalau kamu miliki kebiasaan mengkritik dan melarang, si kecil akan jadi inferior dan kurang yakin diri. Dalam sistem pertumbuhan, dia akan menyangsikan dirinya sendiri dan kurang yakin diri bersama ketetapan yang diambilnya.

Berikut adalah 5 perihal yang perlu Ibu hindari dalam mendidik anak umur 1-3 tahun:

Hindari Kata Kasar dan Kekerasan
Pada umur 1-3 tahun, si Kecil akan kerap lakukan aktivitas mengimitasi orang dewasa lebih-lebih apa yang orangtua katakan. Si Kecil jadi punya kekuatan bicara terhadap umur tersebut dan kerap menirukan tipe dan juga kata yang kerap diucapkan orangtua. Jika orangtua bicara kasar baik ditujukan kepada si Kecil maupun secara tidak menyadari berada di dekat si Kecil, bisa saja si Kecil bicara kasar terhitung di lantas hari jadi lebih besar.

Selain itu, memakai kekerasan dalam menghukum ataupun hanya melampiaskan kemarahan kepada si Kecil jadi perihal yang perlu dihindari. Orangtua terhitung perlu memantau pertumbuhan mental si Kecil. Dengan tidak memakai kekerasan dan perkataan kasar, si Kecil akan punya mental yang sehat dan tetap positif.

Terlalu Memanjakan Si Kecil
Terlalu memanjakan si Kecil mampu memicu si Kecil jadi anak yang tidak mampu independent di lantas hari. Bahkan, saat dewasa si Kecil akan ada masalah dalam memicu keputusannya sendiri. Sifat tersebut akan memicu si Kecil tetap bergantung bersama orang lain. Ketergantungan tersebut menjadikan anak punya inisiatif dan sensitivitas yang kurang.
Orangtua sebaiknya hindari untuk tetap beri tambahan apa yang si Kecil sudi dan kurangi melayani si Kecil dalam lakukan apapun yang sesungguhnya mampu si Kecil lakukan sendiri. Orangtua yang terlampau memanjakan si Kecil berpotensi memicu si Kecil punya emosi yang tidak terkontrol dan gampang marah terkecuali keinginannya tidak terpenuhi.

Menuntut Lebih Pada Si Kecil
Orangtua yang banyak menuntut si Kecil atau terlampau memaksakan kehendaknya berpotensi memicu si Kecil jadi anak yang ambisius. Rasa ambisius si Kecil perlu dikurangi supaya si Kecil tidak terbawa bersama perilaku-perilaku negatif cuma demi sebuah pencapaian yang maksimal. Si Kecil yang punya rasa ambisius tinggi mampu lakukan tingkah laku curang atau memperdaya teman-temannya di lantas hari.
Selain itu, menuntut lebih terhadap si Kecil memungkinkan orangtua jadi abai terhadap permohonan si Kecil. Menjadi abai terhadap permohonan si Kecil mampu turunkan stimulasi otak dan pertumbuhan anak. Si Kecil jadi tertekan dan jadi kurang yakin terhadap diri sendiri maupun terhadap orangtuanya. Sebagai orangtua, perlu bagi Ibu untuk mendengarkan permohonan si Kecil. Jika sesungguhnya keinginannya tidak mampu dituruti, Ibu mampu beri tambahan penjelasan bersama bhs yang halus dan gampang dimengerti supaya tidak menyakiti perasaan si Kecil.

Membandingkan Si Kecil bersama Anak Lain
Orangtua perlu menyadari bahwa setiap anak dilahirkan bersama kekuatan yang berbeda-beda. Ada anak yang kemampuannya brilian, adapula anak yang punya kekuatan biasa-biasa saja. Orangtua sebaiknya hindari memperbandingkan si Kecil bersama anak lainnya. Jangankan si Kecil, apalagi orang dewasa sekalipun tidak menyukai terkecuali dirinya dibanding-bandingkan bersama orang lain. Orangtua perlu beri tambahan kepercayaan lebih terhadap si Kecil, biarkan anak lakukan apa yang dikehendakinya sepanjang masih dalam batas wajar. Membandingkan si Kecil memicu si Kecil kurang yakin diri dan jadi pemberontak di lantas hari.

Membuat Si Kecil Menjadi Penakut
Banyak orangtua yang secara tidak menyadari menakut-nakuti si Kecil bersama beraneka perumpamaan. Misalnya, melarang anak pergi ke area gelap karena ada setan atau raksasa. Tanpa sadar, perlakuan tersebut berpotensi memicu si Kecil jadi penakut. Sehingga si Kecil tidak yakin diri dan condong risau lakukan sesuatu.