Kuliner Medan NON HALAL Paling Menggoda

Kuliner Medan NON HALAL – Selain Lunar New Year atau Tahun baru Imlek kemarin yang menjadi momen dimana keluarga-keluarga jauh berkumpul bersama, Peringatan ChengBeng atau berziarah ke kuburan untuk suku Tionghoa juga menjadi momen untuk merajut tali persaudaraan yang mengendur.

Berkumpulnya keluarga, apalagi kalau orang Medan, tidak terlepas dari yang namanya ‘makan’. Mau itu sarapan, makan siang atau makan malam, pokoknya kalau ngumpul yang namanya makan itu wajib. Jadi, anak-anak MaMa punya inisiatif untuk ngerangkum 5 kuliner Medan NON HALAL pilihan untuk dijadikan lokasi tujuan untuk Kuliner ChengBeng.

Soto Babi Aseng

Saat melangkah memasuki kedai, aroma soto yang bertebaran di udara menjadi nostalgia salah satu anak MaMa yang bersekolah di seberangnya. Ya! Soto Babi Aseng yang berada tepat di seberang sekolah WR Supratman.

Untuk kamu yang mau cari sensasi baru dari Soto Sinar Pagi atau Soto Kesawan, soto babi Aseng ini bisa menjadi salah satu pilihan. Dengan menghadirkan citarasa yang lebih mild, aroma rempah yang lebih ringan dan kuah yang tidak terlalu kental tapi tetap menghadirkan rasa soto yang khas, gue pribadi yakin kalau Soto Aseng ini bisa dinikmati berulang kali tanpa meninggalkan rasa jelak.

Meski begitu, Soto Babi Aseng ini agak berminyak kalau menurutku. Tapi tekstur dagingnya yang lembut dan jauh dari kata alot saat digigit pun seakan menjadi nilai plus yang menutupi problema tadi–apalagi dagingnya cukup generous.

Tidak begitu cocok dengan daging babi? Daging ayam juga disediakan oleh koh Aseng di sini. Sesederhana mengganti daging babi menjadi daging ayam, jadilah Soto Ayam Aseng. Kuah sotonya ya tetap sama.

Suasana kedai kopi yang nyaman menjadi salah satu faktor kami mengunjungi tempat ini. Rasanya semua masyarakat dari semua elemen menyatu tanpa ada perbedaan di tempat ini. Rasa kekeluargaan dan kehangatan terasa masih sangat kental saat duduk di tengah ruangan kedai ini. Sekedar melancarkan pandangan ke interiornya yang masih tradisional–meja granit, plafon yang termakan usia, dinding keramik yang menguning–bakalan bikin kamu teringat terus akan kota Medan saat kamu pergi ke luar daerah setelah ChengBeng berakhir.

Lokasinya sama mudahnya dengan menemukan lokasi Ayi Gal Gadot. Kedai Soto Babi Aseng berada di Jalan Asia simpang Jalan Lahat dengan kedainya yang menghadap langsung ke jalan Asia.

Soto Babi Aseng
Jalan Asia, simpang Jalan Lahat
Buka: 07.00 – habis
#nonhalal
Lokasi: https://goo.gl/maps/eF5HsCYBsCG2

Nasi Siobak/Chasio Akiong

Berbeda dengan Soto Babi Aseng tadi yang harus stand by jam 8 atau jam 9 di kedainya, Siobak Akiong justru jam segitu baru memulai bisnisnya. Jangan anggap remeh, meski gedung tempat jualannya cukup sederhana dan hanya tersedia 5 meja, dagangan Acek ini laris manis lho. Kami saja rela turun dari pusat kota kemari hanya demi dua porsi Nasi Siobaknya yang menggoda.

Butuh tenaga dan keahlian ekstra untuk memotret aksi Acek ini saat lagi motong daging. Pasalnya, gerakan acek ini kenceng pake banget, kontras dengan penampilan usianya yang tidak lagi muda.

Seporsi Nasi Siobak-nya lengkap banget. Dimulai dari CharSiew yang dibakar hingga garing dan manis sampai ke Charsiew dengan dagingnya yang lembut juga ada. Tidak hanya itu, Siobaknya yang juicy dan smokey dipotong dengan sedikit kasar dan lebar terpampang lengkap di atas piring. Telur kecap, LapCheong dan Ayam Goreng juga turut menjadi anggota dalam seporsi Nasi Siobak Akiong.

Nggak cuma laundry yang kiloan, Siobak dan CharSiew acek Akiong bisa dibeli secara kiloan. Tentu harga dan kelengkapannya tidak selengkap seporsi Nasi Siobak-nya, soalnya kamu hanya memilih daging apa saja yang kamu inginkan dan jumlahnya berapa banyak.

Lokasi Acek Akiong ini tidak sulit ditemukan. Kalau kamu tahu RM Gek Lan yang ada di jalan Berlian Sari, maka Acek Akiong ini duluan kamu temukan, sebelum masuk lebih dalam ke arah RM Gek Lan.

Psssttt… Siobak Akiong biasanya sudah sold-out sebelum jam 1 siang.

Siobak Kiong
Jalan Berlian Sari, sebelum RM Gek Lan, di sebelah kiri jalan
Buka: 09.30 – habis (biasanya jam 12.30)
#nonhalal
Lokasi: https://goo.gl/maps/GJETEYDvviB2

Kuliner Medan Non Halal: BPK Haleluya

Gue nggak tahu penggunaan nama Haleluya ini alasannya apa, tapi yang jelas gue pribadi seakan menemukan cahaya terang dari langit karena BPK-nya yang mendarat tepat di hati.

Pantang rasanya duduk berlama-lama di RM BPK tanpa segera memesan makanannya. Sekilo daging panggang, kidu-kidu dan tidak lupa yang wajib hadir yaitu saksang pun menjadi ‘pilihan’ kami saat itu–semua itu yang ada di dalam menu.

Dari sekian banyak BPK, gue pribadi memastikan akan kembali ke tempat yang satu ini karena daging Babi Panggangnya yang empuk, juicy dan berlemak. Kidu-kidunya juga tidak kalah jagonya dengan daging panggangnya, meski gue masih lebih suka kidu-kidu di Ola Kisat. Kalau saksang di Haleluya, bumbunya tidak sebasah/secair saksang di tempat lain. Bumbu darahnya cenderung mengental dan lengket pada dagingnya. Sebuah sensasi yang berbeda dari menikmati seporsi saksang babi.

Oh ya, jangan terkejut jika darah di sini tidak diberi sentuhan rempah khas Batak yaitu andaliman. Kami juga sempat bertanya-tanya. Ternyata tidak berapa lama, menyusul piring-piring kecil dengan cabai rawit dan ANDALIMANNYA. Jadi, kamu tinggal mengaduknya saja dengan darah tadi.

Rumah Makan BPK Haleluya
Jalan Berdikari No. 74
#nonhalal
Lokasi: https://goo.gl/maps/BK3tWZVsMfp

Kuliner Medan Non Halal: Sate Babi Yose Rizal

Tidak henti-hentinya gue menyerukan tentang “pelestarian” kuliner legendaris yang semakin termakan zaman. Salah satunya adalah Sate Babi Yose Rizal ini. Sedikit bersyukur karena kini Acek sudah menempati lokasi baru yang lebih rapi dan teratur. Suasana dine-in juga terasa lebih nyaman dibanding lokasi sebelumnya.

Bukan orang Medan, tetapi Acek ini adalah asli orang Padang yang hijrah ke Medan. Dengan dialek Hokkian khas daerahnya, kami disambut dengan sangat hangat dan ramah. Mempersilahkan kami duduk dan memberikan kami izin untuk merekam dan memfoto aksi-aksinya.

Gerakan-gerakan luwesnya saat menyusun sate di atas panggangan, menyapunya dengan minyak, menggoyangkan lengannya yang keriput namun kokoh, hingga menyajikannya ke atas meja terasa sangat satisfying. Sempat terbersit sejenak entah sampai kapan legenda ini akan bertahan.

Rahasia dibalik kelezatan satenya adalah sebelum dipanggang dan disajikan ke pelanggannya, sate mentahnya direndam dulu dengan bumbu kecap selama kurang lebih dua jam. Of course he won’t reveal what’s his special recipe.

Sebenarnya gue pribadi bukan pecinta lontong jenis kenyal, kilat dan lembut seperti ini. I prefer a lil tough one. Tapi, satenya sangat-sangat menyentuh hati gue. Meski daging di tiap tusukan satenya tidak terlalu besar, tapi rasanya yang manis, lembut, tidak alot, dan sedikit garing serta memiliki aroma kecap yang harum bener-bener membayar kekurangan tadi.

Sudah lama sejak terakhir gue menikmati sate kacang (bener-bener tidak sentuh sate kacang manapun) sebelum gue pindah rumah, dan sate kacang Acek ini mampu mengembalikan nostalgia lama. Going back here to have his heavenly tasted pork skewers during ChengBeng festival? It’s a must, I say!

Beda sama lokasi kekinian yang banyak digandrungi kids zaman now, lokasi Acek ini justru seakan menjadi lokasi perkumpulan masyarakat sekitar Medan yang sudah senior. Yang patut kamu garis bawahi adalah tempat Acek ini tidak pernah sepi dan selalu sold-out! Gojek? Yes! Dine-in? Yes! Tapao? Yes! Pokoknya adaaaaaa aja yang order.

Sate Kacang Yose Rizal
Jalan Yose Rizal No 101, Kedai Kopi 101
Buka: 17.00–21.00 (kalau lebih cepat habis ya tutup lebih awal)
#nonhalal
Lokasi: https://goo.gl/maps/TGLSXTFaVMu

Mie Pangsit Tiong Sim

Lokasi berikutnya yang menurut kami wajib kamu kunjungi untuk kumpul-kumpul bareng keluarga saat ChengBeng adalah Mie Pangsit Tiong Sim. Tempat ini menjadi satu-satunya makanan berbahan dasar mie yang masuk ke daftar 5 kuliner wajib dikunjungi saat ChengBeng ini.

Menonton aksi meracik mie-nya sangat menarik. Meski bukan owner/pengelolanya langsung yang turun tangan untuk menahkodai dapur mereka, performance dari asisten-asistennya saat meracik seporsi Mie terlihat sangat menarik. Berbagai detail penting juga dilakukan sesuai arahan dari owner.

Dimulai dari penggunaan timer saat merebus mie, cara mengaduk mie, takaran porsi dagingnya, dll, tampak seperti sebuah film diputar langsung di depan mata. Prosesnya cukup cepat kok, jadi kamu tidak perlu menunggu lama dan menahan rasa lapar lebih lama.

Gue sempat terbelalak melihat topping daging kecapnya dan ayam suwirnya yang rame buanget! Tapi, gitu gue confirm harganya, rasa shock gue perlahan memudar. Hmmm~ Wajarlah, 40ribu, cuy!

Kebiasaan gue saat makan mie pangsit adalah TIDAK menuangkan kuahnya terlebih dahulu agar lebih terasa aroma asli mienya seperti apa. Suapan pertamanya bikin mata gue berbinar. Daging kecapnya yang lembut dan manis menari-nari di atas lidah saat gue kunyah. Tekstur dari ayam suwirnya juga membaur dengan tekstur daging kecapnya. Tidak terasa kontras, tapi masih dapat dibedakan mana ayam dan mana babi.

Entah kenapa pangsitnya yang dua biji menjadi nilai plus buat gue. Mungkin karena jarang banget gue menemukan gerai yang memberikan pangsitnya lebih dari satu.

Terenyuh saat melihat kedua warga senior di atas saat menikmati suapan-suapan memori mereka dari semangkuk Mie Pangsit Tiong Sim. Hmmm~ Teringat diri gue yang masih single and happy.

Sejak 1933, tempat ini sudah melahirkan banyak pelanggan-pelanggan setia, kedua orang di atas contohnya. Menurut gue, tempat ini menjadi salah satu kuliner di Medan yang harus dilestarikan. Bayangkan jika semua kuliner legendaris di Medan termakan zaman dan berganti menjadi cafe-cafe modern. Kemanakah warga senior Medan harus melabuhkan langkah kaki mereka hanya untuk menikmati kuliner yang dia rindukan dari masa mudanya?

Lokasi tempat Mie Pangsit Tiong Sim ini dapat dengan mudah kamu temukan. Untuk kamu yang asing dengan jalanan kota Medan, kamu bisa menemukan tempat ini dengan mengikuti link Google Maps yang gue sematkan di bawah.

Mie Pangsit Tiong Sim
Jalan Tjong Yong Hian, simpang Jalan Semarang
Buka: 07.00 – 22.00
#nonhalal
Lokasi: https://goo.gl/maps/cE34APFForL2

Nah, itulah berbagai rekomendasi kuliner Medan NON HALAL yang menggoda, merasa lapar gak sih setelah tau makanan yang nikmat ini?