Menjadi Ayah yang Baik

menjadi ayah yang baik – Sebandel dan seburuk apapun seorang laki-laki, pasti dia mendambakan jadi seorang bapak yang baik. Termasuk Anda, pasti Anda haus dengan tips dan trik, dan juga bagaimana caranya jadi seorang bapak yang baik.

Karena memang tidak benar satu penyesalan yang paling menyakitkan, yang notabene tak sedikit orang menyesalinya, adalah disaat sudah tua, baru mengetahui ternyata Anda gagal jadi bapak yang baik.

Menjadi Ayah yang Baik

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Haruslah Anda ketahui apa saja gejala seorang bapak yang baik. Nah, selanjutnya ini, adalah 12 perihal yang tak akan dijalankan oleh seorang bapak yang baik, kepada anak-anaknya.

1. Ayah yang Baik Tidak Akan Memberikan Contoh yang Buruk
Banyak sang bapak yang menasehati anaknya sehingga sopan, baik, jangan nakal, jangan berperilaku kasar dan berkata-kata kasar. Namun, ternyata, ia sendiri pun malah berperilaku kasar dan berkata kasar disaat kembali menyetir mobil, andaikata tersedia orang yang menjengkelkan di jalan. Bahkan kadang ia berkata kasar kepada istrinya.menjadi ayah yang baik
Si bapak lupa bahwa anak-anak itu condong mengikuti apa yang ia contohkan, daripada apa yang ia nasehatkan.
2. Ayah yang Baik Tidak Akan Sering Memukul Anaknya
Salah satu yang jadi penyebab gagal seseorang jadi bapak yang baik, adalah sebab tidak sanggup menambahkan pemahaman yang baik dan benar kepada anaknya, sesudah itu ia pakai kekerasan, tujuannya sehingga anaknya sehingga mengetahui akan sesuatu.
Padahal, itu adalah langkah yang keliru. Suatu informasi, tidak akan langgeng di kepala, andaikata disampaikan dengan kekerasan, bukan dengan pemahaman dan kesadaran akal, apalagi andaikata mendambakan diantaran kepada seorang anak.
Akibatnya, si anak cuma akan mengamalkan suatu Info itu andaikata tersedia ancaman, tetapi ia tidak akan mengamalkannya, andaikata tidak tersedia ancaman. Intinya, tidak terbangunnya kesadaran.
3. Ayah yang Baik Tidak Akan Pelit Waktu dengan Anak-Anaknya
Anak-anak kami terlalu berharap akan Kedatangan kita, ayahnya, nyaris di tiap tiap waktu. Sayangnya, tersedia sebagian bapak yang tipe workaholic, yakni yang pergi kerja di pagi hari disaat anaknya belum bangun bobok, dan pulang kerja di malam hari disaat anaknya sudah bobok.
Bahayanya, andaikata sang bapak jarang menggunakan saat dengan anaknya, jangan heran andaikata sang anak akan jadi orang yang lebih mendengar apa kata temannya, daripada kata ayahnya.
Sementara tersedia bapak lain yang kerap bermain-main dengan anaknya, makan bareng anaknya, menggunakan saat dan bersenang-senang dengan anaknya. Tak heran, di sesudah itu hari ia jadi loyal pada ayahnya. Laksana bersahabat.
4. Ayah yang Baik Tidak Akan Lupa pada Apa-Apa yang tersedia pada Anaknya
Yah, jangan hingga Anda jadi bapak yang tidak mengetahui apa makanan favorit anaknya, apa hobinya, kapan tanggal lahirnya, apa agenda dengan nanti, dan berkenaan lainnya yang tersedia pada anak.
Bila Anda kerap lupa akan apa-apa yang tersedia pada anak Anda, terutama pada perihal yang baginya itu terlalu berharga, penting, dan menyenenangkan, maka ia akan kecewa dengan Anda. Kemudian ia jadi males lapor apa-apa kepada Anda.
5. Ayah yang Baik Tidak Akan Lupa untuk Mengapresiasi Pekerjaan Anaknya
Kerap pilu termasuk rasanya disaat andaikata sang anak sanggup nilai bagus pada suatu ujian mata pelajarannya di Sekolah, sesudah itu menunjukkannya kepada orang tuanya, tetapi orang tuanya malah bilang, “Halah, baru dapaet nilai 80 aja sudah bangga. Yang lain pasti dapet nilai 90 kan? Yang lain pasti dapet nilai 100 kan?”
Dan masih banyak misal tiadanya apresiasi kepada sang anak. Seperti andaikata disaat sang anak membawa dampak Rumah jadi kotor dan berantakan, anaknya dimarahin. Tapi disaat anaknya rajin bersih-bersih, ayahnya biasa-biasa saja, diem-diem aja. Atau disaat anaknya tersedia merusakkan barang, memecahkan barang, anaknya dimarah-marahin dan dipukulin. Namun, disaat ayahnya termasuk memecahkan atau mengakibatkan kerusakan barang, ayahnya diem-diem aja.
6. Ayah yang Baik Tidak Akan Membawa-Bawa Masalahnya dengan Istrinya, ke Anaknya
Memang sih lumrah termasuk kecuali sesekali berjalan cekcok di Rumah tangga. Dalam sebagian waktu, sang bapak dengan sang ibu kembali nggak enakan. Namun, jangan hingga sang anak mengetahui bahwa orang tuanya kembali berantem. Itu sebabnya, berantemnya jangan lama-lama. Kalau sanggup pun yah jangan berantem.
Kalau pun memang kembali diusahakan sehingga baikan lagi, jangan hingga emosi ketidaksukaan itu termasuk terlampiaskan ke sang anak yang tak mengetahui apa-apa. Kalau dia malah dilibatkan seperti itu, apalagi terbiasa, jangan heran andaikata nanti ia jadi suka melawan orang tua. Karena dari awal dia sudah kerap menyaksikan ke-2 orang tuanya saling melawan.
7. Ayah yang Baik Tidak Akan Banyak Memaksa-Maksa
Tak sedikit tersedia bapak yang hobi mendikte anaknya. Padahal seruannya itu bukan wajib, apalagi bukan sunnah, tetapi cuma mubah-mubah saja. Seperti halnya wajib jadi PNS, wajib kuliah jurusan anu, wajib sanggup nilai ujian sekian, dan sebagainya.
Biarkanlah ia memilih, jangan hingga rutinitasnnya itu cuma menggembirakan Anda saja, tetapi dia malah suntuk, risih, dan nggak nyaman dengan rutinitasnya. Toh, mohon maaf, Anda belum pasti punya cukup usia untuk menyaksikan hasil akhir dari pemaksaan Anda tersebut. Sementara yang tersedia sekarang itu ekspresi muka dan perilakunya yang murung.
8. Ayah yang Baik Tidak Akan Membiarkan Anaknya Kebanyakan Bebas
Tentu berbeda dengan maksud yang tersedia di poin 7. Maksudnya jangan umumnya bebas itu, jangan jadi liberal. Jangan hingga anak Anda tidak mengetahui hukum syara’, apa yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram.
Lihatlah sekarang betapa banyaknya anak-anak yang terlalu bebas tak dikontrol orang tuanya, ia bebas naik motor kemana-mana, bebas terlihat malam, bebas bergaul dengan berandalan, bebas pacaran dengan anak orang, bebas membeli ini-itu, dan lain-lainya.menjadi ayah yang baik
Itu sebabnya, pentinglah Anda menambahkan keteladanan yang baik. Tentunya, sehingga Anda sanggup menambahkan keteladanan yang baik, Anda wajib baik dulu. Seperti andaikata tsaqafah Islam Anda wajib tinggi, sesudah itu Anda sanggup mengajak anak Anda untuk ngaji tsaqafah Islam juga.

Dan jangan lupa pula, peran sang ibu pun penting termasuk didalam penjagaan anak dari kebebasan ini. Pastikan termasuk istri Anda satu pemahaman dengan Anda.
9. Ayah yang Baik Tidak Akan Berbohong Kepada Anaknya
Ada penelitian yang memperlihatkan bahwa anak usia 5 th. zaman sekarang itu pada jago bohong, sebab dari awal kerap menyaksikan orang tuanya berbohong. Kasus sederhananya, disaat telephone di Rumah berdering, sang bapak menyuruh anaknya untuk mengangkat telephone tersebut. Kemudian, orang di telephone selanjutnya bertanya, “Ayahnya ada?” Kemudian Anda bilang, “Bilang aja bapak kembali di luar, nggak tersedia di Rumah.” Hingga sesudah itu anak Anda pun menuruti ajaran berbohong tersebut.
Atau, tersedia pula kasus disaat sang anak merengek berharap sesuatu, sesudah itu si bapak mengiyakan, “Oke nanti bapak beliin yaa..” eeh tetapi ternyata nggak dibeliin-beliin juga. Padahal, kemungkinan lebih baik andaikata sang bapak sanggup menambahkan pemahaman kepada sang anak.
10. Ayah yang Baik Tidak Akan Mengabaikan Permintaan Tolong Anaknya
Sebetulnya andaikata si anak minta dukungan kepada Anda, itu adalah pertanda hubungan Anda dengan anak Anda cukup sehat. Namun, kesehatan selanjutnya sanggup runtuh didalam sekejap, andaikata Anda merasa rutin membiarkan permohonan tolong anak Anda. Apalagi kecuali menolaknya dengan langkah yang tidak etis.
Manfaatkanlah kesempatan emas tatkala anak Anda berharap dukungan Anda. Sungguh, itu merupakan kesempatan emas untuk mempengaruhinya, dan memberikannya pemahaman.
11. Ayah yang Baik Tidak Akan Berhenti Mencintai Anaknya
Ayah yang baik tidak akan pernah berhenti mencintai anaknya, meski apapun kendala yang menghadang.
Seperti andaikata Anda dengan anak Anda LDR-an, Anda kerja di luar kota gitu. Ayah yang terlalu mencintai anaknya, pasti selalu mengupayakan memperlihatkan kecintaannya kepada anaknya. Ntah itu dengan langkah rutin chatting dengan anaknya, ngirim hadiah, termasuk mengupayakan sehingga sanggup langsung bertemu.
12. Ayah yang Baik Tidak Akan Membiarkan Anaknya Tidak Paham Islam
Apalah gunanya keluarga suka di Dunia, andaikata kelak dipisah dengan Surga dan Neraka, atau malah sama-sama ke Neraka. Na’udzubillahimindzalik.
Kebanyakan anak-anak sekarang itu punya cita-cita yang bagus, yaitu, membahagiakan orang tuanya. Namun, defenisi membahagiakan orang tua itu disempitkan. Sekadar bekerja nyari duit sehingga sanggup menghajikan orang tuanya, menambahkan Rumah, dan menambahkan kendaraan.
Memang tidak tidak benar serupa sekali, tetapi yang disayangkan, andaikata orang tuanya keburu meninggal duluan. Padahal si anak belum lulus kuliah, gaji masih sedikit, dan sebagainya. Orang tuanya sudah di Kuburan, tidak perlu kembali mobil, Rumah, dan harta-harta seperti itu.